Monday, April 6, 2009

Vote for Dante!

Nama asliku Danyel. Singkat, padat, jelas. Menurut riset, 71% orang membaca nama ini dengan dua suku kata: ‘da-nyel’. Jadilah teman-teman memanggilku ‘Nyel’. Tidak salah, tapi aneh, dan begitu gampang diplesetkan menjadi panggilan untuk primata pemakan pisang. Dan aku selalu risih jika ada yang memanggil dari jauh dengan suara keras di tengah orang banyak, “Nyel!Nyeel!!..” Dalam seperempat detik semua orang akan melempar pandangan heran ingin tahu siapa gerangan yang punya nama sapaan seaneh itu. Untung saja mukaku cukup rupawan untuk mengkonversi sebagian tatapan aneh itu dengan tatapan naksir dan kagum *cling cling* (buat yang pengen protes bisa melayangkan gugatan resmi melalui fasilitas comment di bawah).

Di masa bangku SMA yang konon kata orang adalah masa-masa terindah remaja, panggilanku berevolusi. Got worse. Lantaran punya arogansi dan narsisme yang berlebihan, aku dengan spontan dipanggil ‘Lagak’ oleh seorang teman. Begitu cepatnya panggilan ini mewabah memaksaku untuk menerima saja tanpa perlawanan. Argh! Hari hari berikutnya jadilah aku berusaha keras menemukan nama lain yang keren, baru kemudian dideklarasikan ke seantero jagad raya. That’s the plan. Kaya artis nyari nama panggung biar cepat beken gitu deh pokoknya. Tapi ternyata agak susah juga nyari nama baru, sementara panggilan ‘Lagak’ terus mewabah dengan cepatnya.

Sampai suatu hari di awal millennium kedua aku diperkenalkan dengan dunia warnet oleh sohib-sohibku yang dandy. Maklum, dulu rada gaptek. Aku langsung jatuh cinta ama game online yang lagi hot waktu itu. Namanya Starcraft. Karena masih dalam krisis identitas diri, aku hampir mengalami depresi memikirkan Username yang perlu dimasukkan untuk memulai permainan. Ini nih saatnya kalo mau mendeklarasikan nama baru, pikirku. Sudah 3 menit aku berpikir keras sampai salah satu sohibku berteriak lantang, “Lagak oi, co ni yok ku!!!???” (terjemahan: Oi Lagak, kenapa lama sekali!!!???). Akhirnya aku nyerah juga dan dengan lemas mutusin buat masukin namaku apa adanya aja. Saking buru-burunya waktu itu, maksud hati menekan tombol ‘Y’ malah keseleo menjadi ‘T’ (‘Y’ ama ‘T’ tetanggaan soalnya di kibod), dan tombol ‘L’-nya dengan kebetulan yang ajaib ternyata rusak. Jadinya adalah nama keren dengan sedikit sentuhan Barat dan citarasa Italia yang sudah lama kucari-cari: ‘DANTE’.

Dengan bantuan beberapa teman yang berhasil gua sogok dan pengaruhi, beberapa hari kemudian nama Dante mulai mewabah juga menandingi Lagak yang lebih dulu berkuasa. Kampanye nama Dante terus berlanjut sejak saat itu sampai dengan detik saya mengetik ini.

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home