Sunday, April 5, 2009

Maling Rodeo Pembenci Cina

Pagi-pagi sekali waktu gua masih tidur tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar kos gua. Gua sadar karena pintu gua berisik kalo dibuka. Sepertinya semalam gua lupa kunci pintu. Karena tidak ada orang lain yang pernah membuka pintu kamar gua seenaknya tanpa permisi selain cewe gua, gua berasumsi itu dia. Gua cuekin aja deh tanpa gua liat lagi. Masi seperlima sadar soalnya (kalo bahasa bermajas hiperbolanya temanku kalo gua tidur, dunia runtuh juga ga bangun. ‘rite Cunk?) . Ga lama dibuka, gua denger pintunya ditutup lagi, tanpa ada orang yg masuk. Aneh juga. Berhubung kuasa kantuk ga terbendung, gua lanjut tidur (bodo amat de pikirku). Beberapa jam kemudian gua terbangun lagi karena ada ribut-ribut di luar koridor kos. Rupanya ada yg kemalingan laptop ama HP di kamarnya pas lagi mandi tadi pagi. Wew, analytical thinking gua langsung bekerja; berarti yang tadi pagi buka pintu kamar gua itu maling juga dunk! Ga jadi malingin gua karena takut gua bangun, trus berteriak histeris. Untung saja gua ga bangun pagi. Soalnya kalo gua bangun pagi, dan pas lagi mandi, bisa jadi gua yg kemalingan. Inilah keuntungan molor ampe siang.
Ingat maling, gua jadi ingat pengalaman unik pas masi kuliah dulu...

Jam satu, jam abis makan siang, gua keluar dari kamar kos (sekarang ex-kos) bermaksud pengen ambil handuk buat mandi (baru bangun tidur ceritanya). Di depan kamar tetangga gua ada seorang mas-mas yang ga pernah gua liat, lagi melototin deretan sandal ama sepatu di atas rak kaya lagi milih belanjaan di toko sepatu. Bedanya ini barang-barangnya uda butut semua; dari sandal Swallow ampe sepatu kumal berlogo semi-Adidas (kalo Adidas tiga garis, ini dua garis).

Gue: “Ada apa Mas?”
Mas-mas mencurigakan: “Uh? Oh, ngga. Lagi nunggu teman.” (ngomong sambil mundur 2-3 langkah, gaya ngomong kaya orang mabuk)
Gue: “Temannya sapa Mas?”
Mas-mas mencurigakan: “Hendra.” (berbalik badan terus jalan pergi)

Di kos gua emang ada yang namanya Hendra, tapi kamarnya di lantai bawah (gua di lantai dua). Kayanya ini orang ngarang nama, mentang-mentang nama Hendra pasaran (buat pemilik nama Hendra, no offense). Dengan asas praduga bersalah gua langsung ke kamar teman gua tempat berkumpul anak-anak kos lain buat main Winning Eleven. Ada empat orang di sana, kebetulan tiga di antaranya adalah penggemar fitness dengan otot trisep dua-tiga kali punya gua. Langsung gua lapor, dan mereka dengan semangat menghambur keluar menyusul si mas-mas mencurigakan. Si mas-mas ini lagi di tengah tangga turun waktu kita panggil.

Penggemar fitness #1 (gua lupa teman gua yg mana): “Cari siapa Mas?”
Mas-mas mencurigakan: “Aconk.” (tetap dengan gaya mabuk)

Loh tadi katanya Hendra. Apa Hendra itu nama Chinese-nya Aconk ya?

Gue: “Loh tadi katanya mau cari Hendra!?”
Mas-mas mencurigakan: “Iya tadi (bla bla bla) keluar (bla bla bla) (ngomongnya ga jelas, tetap sambil jalan turun, kali ini agak cepat)

Teman-teman gua terus mendekat dengan melontarkan interogasi-interogasi tajam, dan dijawab dengan ga jelas sambil tetap jalan menuju pintu pagar keluar. Sampai di dekat pintu pagar, ternyata digembok. (pemilik kos emang mengharuskan kami menggembok kembali pintunya tiap kali abis masuk atau keluar). Jadilah dia tersudut dikepung lima orang, termasuk gua. Semuanya warga keturunan Tionghua.

Penggemar fitness #2: “Kami mau geledah dulu Mas dulu sebelum Mas bisa keluar.” (suasana uda panas sampai titik ini)
Mas-mas mencurigakan: “Emang salah saya apa?” (penghuni kos lain uda banyak yg keluar menyaksikan)
Penggemar fitness #3: “Mas mau maling kan? Ngaku aja Mas! Jangan kirain bisa keluar, kita panggil polisi”
Mas-mas mencurigakan: “Emang salah saya apa?” (gaya mabuknya uda ilang)
Gue: “Mas gak bisa jelasin kan kenapa mondar-mandir di kos ini sambil liat-liat barang orang!?”
Mas-mas mencurigakan terdiam. Namun kemudian dengan kecepatan mengagumkan ala kepepet, dia lompat dan langsung nemplok di pintu pagar yg tinggi itu. Dengan refleks pula kita semua di situ berusaha menarik-narik dia turun. Dia memberontak. Satu kakinya akhirnya lewat. Gayanya sekarang uda kaya orang nunggangin kuda, cuman bedanya ini pagar. Dengan segenap upaya kita tarik kaki satunya yang belum lolos. Tenaga beberapa orang jelas lebih unggul, tapi maling ini persistent juga. Gayanya uda kaya orang main rodeo. Ada juga satu temanku yang inisiatif membawa penggorengan dari dapur kos sambil lari, trus dipukul-pukulkan dengan semangat ke paha si maling rodeo. Gua yakin cepek persen itu pasti sakit. Di tengah pergumulan itu berbagai umpatan dikeluarkan. Karena kos kita lokasinya di pinggir jalan raya, dengan cepat banyak orang penasaran berkumpul, sampai jalanan pun menjadi macet.
“Hoi!!TURUN! Turunn gak lo!!”
“Maling!Maling!!”
Si maling rodeo juga balas berteriak, tapi dengan konten yang tidak lazim.
“Tolong!TOLONGG!!CINA!!CINAA!!!TOLONG!!CINAAA!”
Bingung kan...? Gua juga bingung.
Singkat cerita, si maling rodeo pun menyerah tanpa syarat dan turun dengan “selamat”, dan akhirnya ditahan polisi. Mungkin tuduhannya harusnya ditambah provokasi berbau SARA. Hampir semua penghuni ex-kos gua itu memang warga keturunan Tionghua (atau at least bertampang mirip orang Cina). Namun yang menggelitik adalah, apa maksudnya dia ngeluarin kata-kata kaya gitu? Ekspektasinya apa? Apa dia berharap orang-orang di jalan itu bakal belain, nolongin, dan sekaligus ngelawan kami penghuni kos Cina tanpa memperhitungkan lagi siapa yang salah dan benar? Pathetic. Ditambah kenyataan bahwa dia mengeluarkan kata-kata itu dengan sangat spontan, gua sih bisa berasumsi kalo si maling rodeo ini emang pada dasarnya benci ama orang Tionghua. Well, kalo banyak orang punya pikiran kaya gini, Bhinneka Tunggal Ika masi jadi PR yang sangat besar buat kita bersama.

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home